Categories
Demokrasi Liberal Konstitusi Memilih Pemimpin Oligarki Pancasila Pemilu

Dapatkah GOLPUT Membuat Perubahan?

Golput adalah singkatan dari Golongan Putih, yaitu sebutan bagi mereka yang tidak menggunakan hak pilihnya dalam sebuah pemilihan umum.

Dalam bahasa Inggris

ada beberapa faktor yang menyebabkan turunnya angka partisipasi pemilu. Dari survei yang dilakukan KPU, salah satu faktor penyebab adalah masih tingginya angka pemilih yang golput. Menilik angka partisipan pemilu legislatif dan presiden tahun 2009 lalu, sekitar 29% pemilih memilih golput.

“Saya lebih takut menghadapi satu pena wartawan daripada seribu bayonet musuh.” ~Napoleon Bonaparte

Tulisan Jurnalis Lebih Tajam Dari Peluru, Goresan Tinta Mengubah Dunia.

Napoleon Bonaparte pernah mengatakan ” Saya lebih takut menghadapi pena Jurnalis daripada seribu bayonet musuh,” Napoleon Bonaparte merupakan seorang pangima perang sekaligus pemimpin Prancis pada masanya.

Napoleon Bonaparte by Jacques Louis David, Public domain, via Wikimedia Commons

Quatre journaux hostiles sont plus à craindre que mille baïonnettes.

“J’ai plus peur d’affronter la plume d’un journaliste que mille baïonnettes ennemies”, Napoleon Bonaparte

Napoleon Bonaparte pernah mengatakan ” Saya lebih takut menghadapi pena Jurnalis daripada seribu bayonet musuh,”

Berapa Persen Golput 2019?

Berdasarkan hitung cepat LSI dengan 100% sampel, data golput pada Pilpres 2019 mencapai 19,24%. Angka tersebut melawan tren golput yang terus naik sejak pemilihan umum pascareformasi. Menurut data Komisi Pemilihan Umum (KPU), tingkat golput 23,30% pada Pilpres 2004, 27,45% pada 2009, dan 30,42% pada 2014.May 3, 2019

https://www.bbc.com › indonesia

Jumlah golput di Pilpres 2019 paling rendah sejak 2004 – BBC

Categories
Karakter Memilih Pemimpin Politik

Jawaban Buat Jos Jusuf: Beda Politisi dan Negarawan

Selamat malam Jos. Referring to your comment above ⬆️
Jos, apa beda politisi dan negarawan?

Thank you 🙏

(☝️pertanyaan saya kepada anda hari Senin 26/6/23 malam yg belum anda jawab)

Karena anda belum jawab maka di bawah ini saya mencoba untuk menyampaikan pendapat saya. Apalagi pertanyaan saya kepada anda diatas sebenarnya berkaitan dengan pertanyaan pak Budi Santoso barusan kepada anda Jos.

Jos Jusuf – sahabatku sejak pertengahan 1980 an

Jos, apa beda politisi dan negarawan? Ini pertanyaan saya kepada anda Senin 26/6/23 yang lalu.
Indonesia banyak memiliki politisi tapi sangat sedikit negarawan.

Negawaran memberikan jiwa raganya untuk negara, sedangkan politisi mencari sesuatu untuk jiwa raganya dari negara.

Negarawan memberikan jiwa raganya untuk negara, sehingga dapat menjadi pahlawan.

Selain itu, negarawan memberikan apa yang dapat diberikan kepada negara, sedangkan politisi mencari apa yang bisa diperoleh dari negara.

Karena itu, banyak politisi yang terjebak pada kasus hukum dan praktik korupsi, Jos. IMHO

@MEI

Tambahan:
Jos, negarawan tidak kaya.
Contoh: para pendiri bangsa yang merelakan jiwa raganya untuk perjuangan kemerdekaan Indonesia, hidupnya biasa saja. Para pendiri bangsa, berdebat habis-habisan dalam forum-forum diskusi untuk menegakkan ideologi, tapi berteman akrab dalam kehidupan sehari-hari.

Terkoyaknya persatuan Indonesia saat ini, karena terkoyaknya mental dan jiwa negarawan di tengah bangsa Indonesia.

Categories
Karakter Konstitusi Memilih Pemimpin Pancasila UUD 1945

Pancasila Itu Sudah Islam !

Ditulis oleh HME Irmansyah,  Penatar P4 Tingkat Nasional, alumni BP7 Pusat. Angkatan 145, Tahun 1991.

Abuya Mohammad Natsir Gelar Datuk Sinaro Panjang, demikian nama lengkap beserta gelar adat dan sekaligus gelar pemangku adat Minangkabau. Buya Natsir ini usianya lebih muda 3 tahun dari Haji Abubakar Jacub Sutan Marajo Kayo Opa saya dari pihak ibu, sedangkan Abo atau kakek saya dari pihak ayah yaitu Nur Sutan Iskandar lebih tua 11 tahun dari Buya Natsir.

Mereka bertiga memang masih saling bersaudara satu sama lain karena begitulah persaudaraan saling kawin mengawin di ranah Maninjau yang disebut sebagai Salingkaran Danau Maninjau di Sumatera Barat.

Masa kecil Mohammad Natsir dipenuhi dengan kegiatan mengaji dan belajar agama. Ia dan keluarganya tinggal di rumah Sutan Rajo Ameh yang merupakan saudagar kopi terkenal di daerahnya. Mohammad Natsir mengawali pendidikan dasarnya di Sekolah Rakyat di Maninjau.

Sementara Buya HAMKA singkatan dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah adalah jalan kemenakan dari Nur Sutan Iskandar, artinya jalan sepupu dari ayah saya Nursan Iskandar. Sementara ibu saya ketika masih kecil sering digendong oleh ayah saya. Memang ibu dan ayah saya itu juga masih bersaudara dan kebetulan rumahnya berdekatan di daerah Cideng, Jakarta Pusat, yang pada jaman Belanda dulu disebut Thomas buurt atau Thomas Weg. Rumah Buya Natsir di Jl. Jawa 28, Menteng, Jakarta Pusat di depan rumah Sutan Syahrir dan juga di depan rumah Rahardjo Tjakraningrat. Rumah Abubakar Jacub di Jl. Ampasit 4, Cideng yang kemudian pindah ke Jl. Sawahlunto 6, dekat jalan Minangkabau di Jakarta Selatan. Rumah Nur Sutan Iskandar di Jl. Cileungsir 10, Cideng, Jakarta Pusat, sementara rumah Buya HAMKA di Jl. Raden Patah 3, Kebayoran Baru.

Abuya Mohammad Natsir Datuk Sinaro Panjang

Pak Natsir wafat tanggal 6 Februari 1993 setelah setahun sebelumnya hari Kamis tanggal 12 Maret 1992 saya bersama KH. Nabhan Hussein seorang aktivis 77/78 dari IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta bertemu dengan Buya Natsir dengan kenangan yang tak terlupakan tentang Pancasila. Pertemuan di ruang kerjanya di kantor Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia di Jl. Kramat Raya 45, Jakarta Pusat.

Pak Natsir adalah seorang ulama, politikus, dan pejuang kemerdekaan Indonesia. Buya Natsir merupakan pendiri sekaligus pemimpin partai politik Masyumi, dan tokoh Islam terkemuka Indonesia. Juga pernah menjadi Perdana Menteri.

Saya masih teringat ketika saya masih sekolah rakyat (sekarang disebut SD) Opa Abubakar Jacub Sutan Marajo Kayo mengatakan kepada saya dalam bahasa Minangkabau campur bahasa Belanda, “Mohammad Natsir iko .., inyo pajuang kamardekaan Indonesia, tokoh Islam, sarato politisi tanamo Indonesia. Natsir marupoan Perdana Mantari Indonesia nan kalimo. Inyo pernah pulo dipacayo manjadi Presiden Liga Muslim sa-Dunia. …. Ed (panggilan kakek kepada saya)…, jij moet blij zijn dat jij komt van de goede afskomstig,” ujar kakek saya kepada saya ketika menceritakan tentang Buya Natsir.

Kesederhanaan mantan Perdana Menteri Mohammad Natsir dibawa sampai mati. Makamnya di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Tanah Abang, Jakarta Pusat di dekat makam Opa, Oma dan ibu saya, layaknya makam orang biasa saja. Tidak ada pertanda bahwa Natsir pernah menjadi orang besar di tahun 1950-an. Di jaman tahun 1950-an, Natsir dikenal sebagai pemimpin Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia). Politisi yang ulama ini pernah menjadi Perdana Menteri. Makam Buya Natsir terletak di blok AA1 nomor 554.

Makam Buya HM. Natsir Datuk Sinaro Panjang. Makam Buya Natsir yang berselimut rumput ini terletak di blok AA1 nomor 554 di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat.
Pancasila

Pancasila Itu Sudah Final !

Sehabis makan siang pada Kamis tanggal 12 Maret 1992 saya bersama KH. Nabhan Hussein yang memang bekerja di Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia masuk ke ruangan kerja Buya Mohammad Natsir di Jl. Kramat Raya No. 45. Sebagaimana biasanya pak Nabhan yang senang diskusi banyak hal dengan pak Natsir. Saya ikut nimbrung.

Ketika sedang asyik kami berbincang tiba-tiba masuk beberapa orang pemuda ke ruangan pak Natsir sambil mengatakan, “Buya tolong beri kami komando untuk hancurkan thogut Pancasila ini … dst.”. Mendengar hal tersebut pak Natsir langsung berdiri dan berbicara lantang namun lembut kepada para pemuda tersebut. “Hai anak muda, saya ini baru pulang perang. Sudahlah, Pancasila itu sudah final, tidak usah diributkan lagi. Pancasila itu sudah Islam. ….. maaf saya ada tamu silahkan keluar,”, ujar Buya Natsir.

Peristiwa yang tidak lebih dari 5 menit itu begitu membekas pada diri saya sehingga tak bakal terlupakan. Banyak makna dari pertemuan 12 Maret 1992 itu.

Memang saya sering ke kantor pusat Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) di Kramat itu karena selain Ustadz Nabhan Hussein juga ada guru bahasa Arab saya yaitu Ustadz Bachtiar Bakar dan Ustadz Mashadi Sulthoni yang keduanya juga berasal dari Maninjau. Semua nama orang yang saya sebut diatas yang hidup tinggal tiga orang, Bachtiar, Mashadi dan saya. Ustadz Bachtiar dan Ustadz Mashadi kini menjadi sesepuh dan pimpinan pada DDII.

Ila hadhroti Abuya Mohammad Natsir wa ushulihi wa furu’ihi lahumul Faatihah. Aamiin.

@MEI

Categories
Memilih Pemimpin

DUGAAN CARA BEROPERASINYA MESIN PEMODAL/OLIGARKI DALAM MELAHIRKAN PRESIDEN BONEKA

Tulisan dibawah ini adalah tulisan lama kawan kita, yaitu tulisan yang dibuat pada tanggal 17 Maret 2016 oleh Drs. M. Hatta Taliwang, M.I. Kom. (@⁨Hatta Taliwang⁩, ex Anggota DPR-RI dan Aktivis Gerakan Mahasiswa 77/78) yang saya anggap ada korelasinya dengan issue politik yang berkembang saat ini dan juga diskusi di WAG Sobat Perubahan ini. Tulisan ini saya posting dengan seijin Bung Hatta Taliwang barusan lewat telepon. Semoga dapat menjadi I’tibar bagi kita semua. Silahkan dikritisi jika ada, agar terjadi DIALEKTIKA. Berbeda pendapat tidak apa-apa selama berbasis argumentasi, kritis, logis dan sistematis. Billahi Fii Sabilil Haq.

@MEI

Drs. M. Hatta Taliwang, M. I. Kom

DUGAAN CARA BEROPERASINYA MESIN PEMODAL/OLIGARKI DALAM MELAHIRKAN PRESIDEN BONEKA

PEMILIK MODAL ATAU SEKELOMPOK PEMILIK MODAL BAIK ASING MAUPUN NASIONAL BERKONSPIRASI DENGAN CARA MEMANFAATKAN INSTRUMEN SBB :

1. INTELIJEN
Melakukan pengamatan dan monitoring atas calon calon Presiden yg potensial. Calon tsb diprofiling berdasarkan mana yg populer dan potensial. Calon yg populer dan prorakyat TIDAK AKAN DIPROMOSI tetapi calon yg potensial populer namun dipandang lemah karakter dan kemungkinan akan mudah diatur AKAN DIPROMOSI.Bisa jadi yg terakhir ini sdh lama diuji dan dibina.

2. MEDIA MASSA
Dua tahun menjelang Pilpres sudah bisa dimulai pencitraan dg berbagai cara. Terutama dg memanfaatkan mediamassa milik para kapitalis/OLIGARKI. Mulai diungkap secara massif kelebihan dan kebaikannya. Bahkan dibarengi dg rekayasa penghargaan2 “internasional” dll. Sebaliknya terhadap pesaing potensialnya mulai diungkap kekurangan dan kelemahannya. Kalaupun ada kelebihannya diusahakan sedemikian rupa utk ditutupi atau tdk diberitakan.

3. LEMBAGA SURVEY
Berbarengan dengan itu Lembaga2 survey mulai mengarang opini publik dg prosentse yg sdh diorder pemilik modal. Pengaturan angka angka prosentase tingkat popularitas dan keterpilihan diatur sedemikian rupa sehingga tampak ilmiah. Dengan cara ini rakyat mulai percaya bahwa capres tsb memang akan sulit dikalahkan.

4. INTELEKTUAL/AKADEMISI
Seiring dg itu sbgn Intelektual/akademisi bermental pengemis mulai memberi stempel bagus pd sang calon yg sdh mulai menggelembung namanya berkat rekayasa pemberitaan media massa dan hasil survey abal abal yg dirancang oleh intelektual yg kesurupan dg dana dana dari para kapitalis/ oligarki.

5. RELAWAN/LSM/ORMAS/MEDSOS/ BUZZER
Relawan2 yg mayoritas awam politik tapi nafsunya gede ingin menang dan berkuasa mulai membabi buta bela jagoannya dan secara membabibuta menjelekkan pesaingnya yg sebenarnya mungkin lbh berkualitas namun dianggap berbahaya bagi kepentingan para kapitalis/ oligarki yg anti kedaultan rakyat.Mereka mulai aktif kampanye dan propaganda melalui medsos, diskusi, seminar, sebar pamflet dll.Bekerjasama dg LSM, Ormas pendukung dll. Diperkuat dg operasi intelijen.Mereka mulai kesurupan seolah sedang mengemban missi mulia utk memenangkan pertarungan dengan segala cara. Bahkan mungkin robot robot pembangun opini di media sosialpun dioperasikan. Buzzer buzzer bayaran beroperasi tanpa moral yg penting tujuan tercapai.

6. PARTAI PENDUKUNG
Bahkan Partai Pendukung pun dibuat tak berkutik oleh para bandar yg mulai tampil merayu pimpinan partai pengusung dg membeberkan hasil survey dan berbagai situasi optimis yg berhasil dibangun via media massa dan medsos sehingga Pimpinan Partai tak punya pilihan kecuali menyerah ke para bandar dan akibatnya Pimpinan Partai tak punya daya kritis lagi menyeleksi syarat bagi calon Kepala Negara/Presiden yang layak.Apalagi kalau para bandar membawa sekarung apel Washington.

7. KPU
KPU yg sudah lama diduga sudah disusupi kepentingan pemodal/oligarki dan sdh bermain sejak verifikasi partai relatif sdh dalam kendali sehingga suara pilpres sdh tinggal disesuaikan dg order. Tak ada hambatan karena kelihaian memainkan angka itu sdh jadi permainan rutin tanpa merasa bersalah.Mungkin juga ada anggota KPU/KPUD terlibat korupsi pengadaan kertas dll dibiarkan agar pd saatnya bisa ditekan atau ditersangkakan kalau tak patuh permainan.

8. LEMBAGA PENGADILAN
Lebih bagus lagi kalau di lembaga seperti MK ada oknum hakim yg diduga tersandera mungkin oleh dosa yg hanya diketahui terbatas atau sang hakim memang sdh lama jadi piaraan konglomerat tertentu maka sudah dapat dipastikan tdk mau optimal dan repot2 periksa kecurangan Pemilu/Pilpres dg cermat/teliti. Dengan berkas bertruk truk mana pula sempat mau meneliti perkara dg repot repot kecuali tinggal membenarkan apa yg sdh jadi opini umum yg dibuat Lembaga Survei atau Mediamassa milik oligarki, bahwa pasangan X yang menang.

9. KPK, KEPOLISIAN, KEJAKSAAN, TNI

Institusi seperti KPK atau Kejaksaan atau Kepolisian atau TNI klo terlibat “permainan” apalagi utk “membela” yg berstatus petahana tentu akan lbh effektif dg harapan promosi jabatan misalnya. Bahkan pressure psikologis bisa saja diberikan kepada calon pesaing atau pendukung pesaing sehingga mesin politik pesaing jadi pincang atau lumpuh karena mereka tdk mau repot terjerat kriminalisasi atau resiko tertentu. Apalagi kalau ada tokoh dari institusi tsb diatas yg punya syahwat politik misalnya ingin jadi Wapres maka permainan akan makin jorok.

10. APARAT BIROKRAT
Untuk menjamin jagoan para kapitalis / oligarki itu menang maka Aparat2/Birokrat2 dengan kewenangan dan taktik serta pengalaman yang dimiliki bisa saja bermain demi kemenangan dg janji jabatan atau karir atau uang dll bagi yg bisa menyetor suara dg optimal seperti prilaku birokrat di era Orba.

12. PIHAK ASING
Pihak Asing dan Antek anteknya (bidang politik/ekonomi) tentu tidak tinggal diam. Bila perlu majikannya yg dikenal publik internasional dikerahkan dg datang seolah jadi tamu padahal secara tdk langsung memberi sinyal ” dukungan atau ancaman” kalau jagoannya tidak menang.

KESIMPULAN
Dengan skenario atau modus diatas dan dg penguasaan instrumen tsb diatas maka:

  1. Tidak sepenuhnya bisa disalahkan pada RAKYAT PEMILIH kalau PRESIDEN yg lahir dari proses demokrasi liberal seperti terurai diatas karena rakyat biasa cuma pengikut arus yg telah dibuat oleh kekuatan uang pemilik modal.
  2. Modus diatas dlm konteks di Indonesia sejak PILPRES SBY dan pada PILPRES JOKOWI diduga sdh dipraktekkan dan dimodifikasi serta disempurnakan.Dan kedepan kalau modus ini sdh diketahui publik mungkin akan dimodifikasi lagi. Mereka punya partai besar yang sulit ditandingi yaitu PARTAI MEDIA MASSA.
  3. Dengan modus dan instrumen tsb diatas maka Indonesia tidak akan mungkin lepas dari cengkraman pemilik modal/ oligarki dan nasib rakyat bangsa dan negara akan terus diexploitasi yg berujung hanya kelompok tertentu akan makin sejahtera dan mayoritas rakyat makin tertindas.
  4. Tidak mungkin lahir Presiden yg pro rakyat atau pro bangsa dan negara kecuali menjadi boneka
    berbagai kepentingan pemodal/ oligarki.Baik kapitalis nasional maupun kapitalis global.
  5. Hanya dengan kembali kepada sistem Pilpres Perwakilan dan Musyawarah dan memberi peran kepada MPR RI sbagai LEMBAGA TERTINGGI NEGARA dlm bingkai UUD45 18 Agustus 1945 /Proklamasi kita bisa selamatkan bangsa dan negara dari exploitasi kaum pemilik modal/ oligarki.
    Dengan catatan anggota DPR yg duduk di MPR RI dilahirkan oleh PARTAI yg sdh dibenahi sistem pendanaan, sistem kaderisasi dan sistem pencalegan dan tentu saja ada Utusan Golongan dan Utusan Daerah. Karena sistem kita bukan hanya atas dasar KETERPILIHAN( via Pemilu/ Partai) tetapi juga atas dasar KETERWAKILAN( Utusan Golongan dan Utusan Daerah).

MHT 17 Maret 2016.

Design a site like this with WordPress.com
Get started