Ditulis oleh HME Irmansyah, Penatar P4 Tingkat Nasional, alumni BP7 Pusat. Angkatan 145, Tahun 1991.
Abuya Mohammad Natsir Gelar Datuk Sinaro Panjang, demikian nama lengkap beserta gelar adat dan sekaligus gelar pemangku adat Minangkabau. Buya Natsir ini usianya lebih muda 3 tahun dari Haji Abubakar Jacub Sutan Marajo Kayo Opa saya dari pihak ibu, sedangkan Abo atau kakek saya dari pihak ayah yaitu Nur Sutan Iskandar lebih tua 11 tahun dari Buya Natsir.
Mereka bertiga memang masih saling bersaudara satu sama lain karena begitulah persaudaraan saling kawin mengawin di ranah Maninjau yang disebut sebagai Salingkaran Danau Maninjau di Sumatera Barat.
Masa kecil Mohammad Natsir dipenuhi dengan kegiatan mengaji dan belajar agama. Ia dan keluarganya tinggal di rumah Sutan Rajo Ameh yang merupakan saudagar kopi terkenal di daerahnya. Mohammad Natsir mengawali pendidikan dasarnya di Sekolah Rakyat di Maninjau.
Sementara Buya HAMKA singkatan dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah adalah jalan kemenakan dari Nur Sutan Iskandar, artinya jalan sepupu dari ayah saya Nursan Iskandar. Sementara ibu saya ketika masih kecil sering digendong oleh ayah saya. Memang ibu dan ayah saya itu juga masih bersaudara dan kebetulan rumahnya berdekatan di daerah Cideng, Jakarta Pusat, yang pada jaman Belanda dulu disebut Thomas buurt atau Thomas Weg. Rumah Buya Natsir di Jl. Jawa 28, Menteng, Jakarta Pusat di depan rumah Sutan Syahrir dan juga di depan rumah Rahardjo Tjakraningrat. Rumah Abubakar Jacub di Jl. Ampasit 4, Cideng yang kemudian pindah ke Jl. Sawahlunto 6, dekat jalan Minangkabau di Jakarta Selatan. Rumah Nur Sutan Iskandar di Jl. Cileungsir 10, Cideng, Jakarta Pusat, sementara rumah Buya HAMKA di Jl. Raden Patah 3, Kebayoran Baru.

Pak Natsir wafat tanggal 6 Februari 1993 setelah setahun sebelumnya hari Kamis tanggal 12 Maret 1992 saya bersama KH. Nabhan Hussein seorang aktivis 77/78 dari IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta bertemu dengan Buya Natsir dengan kenangan yang tak terlupakan tentang Pancasila. Pertemuan di ruang kerjanya di kantor Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia di Jl. Kramat Raya 45, Jakarta Pusat.
Pak Natsir adalah seorang ulama, politikus, dan pejuang kemerdekaan Indonesia. Buya Natsir merupakan pendiri sekaligus pemimpin partai politik Masyumi, dan tokoh Islam terkemuka Indonesia. Juga pernah menjadi Perdana Menteri.
Saya masih teringat ketika saya masih sekolah rakyat (sekarang disebut SD) Opa Abubakar Jacub Sutan Marajo Kayo mengatakan kepada saya dalam bahasa Minangkabau campur bahasa Belanda, “Mohammad Natsir iko .., inyo pajuang kamardekaan Indonesia, tokoh Islam, sarato politisi tanamo Indonesia. Natsir marupoan Perdana Mantari Indonesia nan kalimo. Inyo pernah pulo dipacayo manjadi Presiden Liga Muslim sa-Dunia. …. Ed (panggilan kakek kepada saya)…, jij moet blij zijn dat jij komt van de goede afskomstig,” ujar kakek saya kepada saya ketika menceritakan tentang Buya Natsir.
Kesederhanaan mantan Perdana Menteri Mohammad Natsir dibawa sampai mati. Makamnya di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Tanah Abang, Jakarta Pusat di dekat makam Opa, Oma dan ibu saya, layaknya makam orang biasa saja. Tidak ada pertanda bahwa Natsir pernah menjadi orang besar di tahun 1950-an. Di jaman tahun 1950-an, Natsir dikenal sebagai pemimpin Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia). Politisi yang ulama ini pernah menjadi Perdana Menteri. Makam Buya Natsir terletak di blok AA1 nomor 554.


Pancasila Itu Sudah Final !
Sehabis makan siang pada Kamis tanggal 12 Maret 1992 saya bersama KH. Nabhan Hussein yang memang bekerja di Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia masuk ke ruangan kerja Buya Mohammad Natsir di Jl. Kramat Raya No. 45. Sebagaimana biasanya pak Nabhan yang senang diskusi banyak hal dengan pak Natsir. Saya ikut nimbrung.
Ketika sedang asyik kami berbincang tiba-tiba masuk beberapa orang pemuda ke ruangan pak Natsir sambil mengatakan, “Buya tolong beri kami komando untuk hancurkan thogut Pancasila ini … dst.”. Mendengar hal tersebut pak Natsir langsung berdiri dan berbicara lantang namun lembut kepada para pemuda tersebut. “Hai anak muda, saya ini baru pulang perang. Sudahlah, Pancasila itu sudah final, tidak usah diributkan lagi. Pancasila itu sudah Islam. ….. maaf saya ada tamu silahkan keluar,”, ujar Buya Natsir.
Peristiwa yang tidak lebih dari 5 menit itu begitu membekas pada diri saya sehingga tak bakal terlupakan. Banyak makna dari pertemuan 12 Maret 1992 itu.
Memang saya sering ke kantor pusat Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) di Kramat itu karena selain Ustadz Nabhan Hussein juga ada guru bahasa Arab saya yaitu Ustadz Bachtiar Bakar dan Ustadz Mashadi Sulthoni yang keduanya juga berasal dari Maninjau. Semua nama orang yang saya sebut diatas yang hidup tinggal tiga orang, Bachtiar, Mashadi dan saya. Ustadz Bachtiar dan Ustadz Mashadi kini menjadi sesepuh dan pimpinan pada DDII.
Ila hadhroti Abuya Mohammad Natsir wa ushulihi wa furu’ihi lahumul Faatihah. Aamiin.
@MEI
