Categories
Demokrasi

DEMOKRASI DIBUNUH DEMOKRASI

How Democracies Die adalah judul buku yang ditulis oleh Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt, dua orang ilmuwan politik dari Harvard University.
Siapa pembunuh demokrasi itu? Pembunuhnya bukan cuma para jenderal tiran, diktator, tetapi juga penguasa yang terpilih dalam sistem demokrasi itu sendiri. It is less dramatic but equally destructive, jelas Ziblat and Levitsky. Mereka membeberkan banyak contoh, yg paling nyata adalah Hugo Chávez di Venezuela.
Empat Indikator Perilaku Otoritarianisme
Steven dan Daniel mengatakan tidak semua pemimpin terpilih pembunuh demokrasi tadi memiliki track record represif dan otoriter. Memang ada yang sejak awal tampak otoriter seperti Hitler dan Chávez. Tapi banyak juga yang awalnya nampak baik, lalu pelan tapi pasti menjadi otoriter setelah berkuasa ingin mempertahankan kekuasaannya.

How Democracies Die
Anies Baswedan

Ini buku Steven Levitsky mendadak populer karena dibaca oleh ANIES BASWEDAN. Baru sekarang orang tahu bahwa Demokrasi itu musuhnya adalah Demokrasi itu sendiri. Saya teringat ucapan babe RIDWAN SAIDI bulan lalu, dia katakan bahwa DEMOKRASI itu memang tidak cocok di Indonesia. Nah lho…?!?

Gegara baca buku How Democracies Die bisa dihukum? Gegara Baca Buku Anies Bisa Diseret Ke Jalur Hukum?

HOW DEMOCRACIES DIE
How Democracies Die adalah judul buku yang ditulis oleh Steven Levitsky and Daniel Ziblatt, dua orang ilmuwan politik dari Harvard University.
Siapa pembunuh demokrasi itu? Pembunuhnya bukan hanya para jenderal tiran, diktator, tetapi juga penguasa yang terpilih dalam sistem demokrasi itu sendiri. It is less dramatic but equally destructive (p. 3).
Ziblatt dan Levitsky membeberkan banyak contoh, yg paling nyata adalah Hugo Chávez di Venezuela.
Empat Indikator Perilaku Otoritarianisme
Steven dan Daniel mengatakan tidak semua pemimpin terpilih pembunuh demokrasi tadi memiliki track record represif dan otoriter. Memang ada yang sejak awal tampak otoriter seperti Hitler dan Chávez. Tapi banyak juga yang awalnya nampak baik, lalu pelan tapi pasti menjadi otoriter setelah berkuasa ingin mempertahankan kekuasaannya.
Ada empat indikator utama tingkah otoriter
(p. 23-24):
PERTAMA
Reject of, or weak commitment to, democratic rule of the game (Penolakan, atau lemah komitmen, terhadap sendi-sendi demokrasi).
Parameternya:
(1) Apakah suka mengubah UU demokratis?
(2) Apakah mereka melarang organisasi oposisi?
(3) Apakah mereka makin membatasi hak-hak politik warga negara?
KEDUA
Denial of the legitimacy of political opponent (Penolakan terhadap legitimasi oposisi).
Parameternya antara lain: Apakah mereka mencap lawan politik mereka dengan sebutan-sebutan subversif, mengancam ideologi negara? Apakah mereka mengkriminalisasi lawan-lawan politik mereka dengan berbagai tuduhan yang mengada-ada?
KETIGA
Toleration or encouragement of violence (membiarkan atau mendorong adanya aksi kekerasan).
Parameternya antara lain: Apakah mereka memiliki hubungan dengan semacam organisasi paramiliter yang cenderung menggunakan kekerasan dan main hakim sendiri?
KEEMPAT
Readiness to curtail civil liberties of opponent, including media (Kesiapan untuk membungkam/repressi kebebasan sipil).
Parameter di antaranya:
(1) Apakah mereka mendukung (atau membuat) UU yang membatasi kebebasan sipil, terutama hak-hak politik dan menyampaikan pendapat?
(2) Apakah mereka melarang tema-tema tertentu?
Menurut Steven dan Daniel, tindakan represif mereka tidak hanya membunuh demokrasi, tapi juga mengakibatkan polarisasi sedemikian parah di tengah masyarakat, dan kemungkinan terburuknya bisa terjadi perang sipil.
Akar masalah dari semua ini menurut Steven dan Daniel adalah karena masyarakat khususnya politisi tidak lagi memegang norma dan prinsip demokrasi dengan kuat. Mereka menjelaskan, demokrasi hanyalah seperangkat aturan, tapi jika riil di lapangan aturan tadi dilanggar, maka sama saja aturan tadi tidak ada. Akhirnya antara rival yang satu dengan lainnya saling serang, saling menjatuhkan, dan nyaris menghalalkan segala cara untuk pertahankan atau meraih kekuasaan (for a strategy of winning by any means necessary (p. 9).
Polarisasi terus terjadi dan polarisasi itulah yang secara ekstrim dapat membunuh demokrasi itu sendiri.

HME Irmansyah's avatar

By HME Irmansyah

Executive Director ISDT Institute of Studies and Development of Thought Anno 1999 ~ Founder: Prof. Dr. KH Nurcholis Madjid, HM Edwin Irmansyah, H Rahardjo Tjakraningrat, Ir. Suhari Sargo, Drs Soemitro SH, Ir Taufik Achmad Taudjidi MBA, Jos Jusuf, DR. Chudri Sitompul SH MH, Hendi Kariawan, Nursyaf Effendi, KH Nabhan Hussein, H Ali Karim Oei, Bambang Utomo (Tommy), Chandra Usman, Masgar Kartanegara, Edi Langmerdi.

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started